English | Indonesia

Ojo Putus Asa

“Gak oleh putus asa rek!! Ancene urip kui ngunu iku. Masio lunyu kudu tetep menek.” — Mbah Nun

Ojo Putus Asa adalah sikap untuk tidak pernah menyerah, karena memang hidup itu seperti ini adanya. Masio lunyu — meskipun licin — kudu tetep menek. Harus tetap memanjat. Putus asa bukan pilihan, sebab menyerah berarti berhenti hidup di tengah hidup yang sendiri tidak pernah berhenti.

Bayangkan seorang pendaki di lereng tanah liat setelah hujan. Setiap kali ia menapak, kakinya tergelincir turun beberapa jengkal. Yang membedakan pendaki ini dari orang yang kalah bukan kakinya, melainkan tangannya yang terus mencari pegangan baru. Licinnya lereng adalah kenyataan, bukan vonis. Terpeleset adalah bagian dari pendakian, bukan tanda bahwa puncak bukan untuk kita. Selama tangan masih meraih dan kaki masih menapak, kita belum jatuh — kita sedang naik dengan cara yang lebih lambat.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini bekerja lewat hal-hal kecil. Ketika bisnis belum menghasilkan, ketika studi terasa mentok, ketika hati habis karena ditolak: boleh istirahat, boleh mengeluh, boleh menangis barang semalam. Tetapi bangunnya tetap harus ada. Pecah masalah besar menjadi satu pijakan berikutnya — jangan memandang seluruh lereng sekaligus, karena yang membuat orang putus asa biasanya bukan beratnya tanjakan, melainkan besarnya bayangan tanjakan.

Dan justru di sinilah prinsip ini bertemu dengan yang lain: kita tidak memanjat sendirian. Pegangan yang paling kuat adalah keyakinan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Selagi masih ada napas, selalu ada pijakan. Masio lunyu, kudu tetep menek.